Langsung ke konten utama

Teori Pemprosesan Informasi Berbantuan Media


 
Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan kondisi internal dan eksternal tersebut, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Peristiwa belajar adalah persitiwa dengan urutan sebagai berikut: menimbulkan minat dan memusatkan perhatian agar peserta didik siap menerima pelajaran, menyampaikan tujuan pembelajaran agar pseerta didik tahu apa yang diharapkan dala pembelajaran itu, mengingat kembali konsep/prinsip yang telah dipelajari sebelumnya yang merupakan prasyarat, menyampaikan materi pembelajaran, memebrikan bimbingan atau pedoman untuk belajar, membangkitkan timbulnya unjuk kerja peserta didik, memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan tugas, mengukur/evaluasi belajar, dan memperkuat referensi dan transfer belajar.
       Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175).
Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Model  belajar  pemrosesan  informasi  ini  sering  pula  disebut  model  kognitif information processing, karena dalam proses belajar  ini  tersedia  tiga  taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1)      Sensory  atau  intake  register:  informasi  masuk  ke  sistem  melalui  sensory register,  tetapi  hanya  disimpan  untuk  periode  waktu  terbatas.  Agar  tetap dalam  sistem,  informasi  masuk  ke  working  memory  yang  digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2)      Working memory: pengerjaan atau operasi  informasi berlangsung di working memory,  dan  di  sini  berlangsung  berpikir  yang  sadar.  Kelemahan  working memory  sangat  terbatas  kapasitas  isinya  dan memperhatikan  sejumlah  kecil informasi secara serempak.
3)      Long-term  memory,  yang  secara  potensial  tidak  terbatas  kapasitas  isinya sehingga mampu menampung seluruh  informasi yang sudah dimiliki peserta didik.  Kelemahannya  adalah  betapa  sulit  mengakses  informasi  yang tersimpan di dalamnya.

Dalam upaya menjelaskan bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan dimunculkan kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989).
Kompenen pemrosesan dipilih menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah Sensory receptor, Working memory dan Long tern memory.
Sedangkan proses control diasumsikan sebgai strategi yang tersimpan didalam ingatan dan dapat dipergunakan setiap saat di perlukan.

Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.
Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).

Menurut model tingkat pemrosesan, berbagai stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat kedalaman secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu informasi diolah, maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Sebagai contoh, informasi yang mempunyai imaji visual yang kuat atau banyak berasosiasi dengan pengetahuan yang telah ada akan diproses secara lebih dalam. Demikian juga informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses daripada stimuli atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yang menjadi perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam daripada stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya (Craik & Lockhart, 2002).
Multimedia telah banyak digunakan dalam pembelajaran. Menurut Istiyanto (2011), multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih yang terdiri dari teks,grafik, gambar, foto, audio, dan animasi secara terin- tegrasi. Menurut Mayer (2009:3), multimedia didefini- sikan sebagai presentasi materi dengan menggunakan kata-kata (verbal form) sekaligus gambar-gambar.
Pembelajaran berbantuan multimedia dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan belajar sehingga terjadi proses belajar yang sesuai tujuan dan terkendali (Istiyanto, 2011:12)

PERMASALAHAN
1.    APA PENGARUH TEORI GAGNE YANG PALING BESAR BAGI TEORI PEMROSESAN INFORMASI ?
2.    BAGAIMANAKAH CARANYA AGAR INFORMASI YANG TELAH TERSIMPAN PADA MEMORI JANGKA PENDEK TIDAK CEPAT HILANG? JELASKAN !
3.    APAKAH BISA SUATU INFORMASI YANG MASUK PADA SENSORY RECEPTOR DAPAT MENJADI INFORMASI YANG MASUK PADA LONG TERM MEMORY? JIKA BISA, BAGAIMANA HAL TERSEBUT DAPAT TERJADI?
4.    APA KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TEORI PEMPROSESAN INFORMASI ?

Komentar

  1. Saya akan menjawab permasalahan yang keempat

    Kelebihan teori pemrosesan informasi

    1. Dengan menerapkan teori pemprosesan informasi akan membantu meningkatkan keaktifan peserta didik dalam berfikir. Sehingga peserta didik akan didorong untuk berfikir di dalam kegiatan pembelajaran.
    2. Peserta didik akan berusaha untuk mengaitkan proses pembelajaran yang menarik dengan materi yang disampaikan.
    3. Guru dan pendidik di tuntut untuk kreatif dalam kegiatan pembelajaran. Guru dituntut dapat menyampaikan materi pembelajaran dengan metode belajar yang menyenangkan dan menarik sehingga peserta didik dapat menerima materi dengan baik, sehingga peserta didik akan mudah memahami dan mengingat materi yang disampaikan.

    Kelemahan teori pemrosesan informasi

    Apabila guru tidak dapat menyampaikan materi secara kreatif dan menarik maka peserta didik tidak dapat menerima materi yang disampaikan dengan baik sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai. Selain itu apabila ada peserta didik yang tidak aktif dalam proses pembelajaran maka guru akan sulit dalam menyampaikan materi.

    BalasHapus
  2. baiklah saya akan menjawab pertanyaan no 2

    jawabnnya Jika proses informasi dalam ingatan jangka pendek sudah dikendalikan, maka informasi itu akan melakukan fungsi ingatan. Dalam ingatan jangka pendek dilakukan rehearsal atau repetition, yaitu melakukan pengulangan dan pengkodean informasi di dalam fikiran atau ingatan.

    Rehearsal merupakan kegiatan mengingat-ingatkan kembali informasi yang baru diterima oleh fikiran, dan memiliki fungsi: (1) untuk memelihara atau mempertahankan informasi di dalam ingatan jangka pendek, dan (2) untuk memindahkan informasi dari ingatan jangka pendek ke dalam ingatan jangka panjang sebagaimana gambar di atas ini.

    Retrieval Informasi juga disebut pengkodean informasi untuk dipindahkan ke dalam ingatan jangka panjang. Seperti mengkode nomor telepon, hand phone yang memiliki item angka yang banyak, kapasitas ingatan jangka pendek 5-9 item, jika nomor itu lebih dari 5-9 item maka dilakukan penggolongan angka menjadi puluhan, ratusan, ribuan. Contoh; nomor hand phone 081366904079 dapat digolongkan menjadi 0813 66 904 079 untuk memudahnya tersimpan dalam ingatan jangka panjang.

    BalasHapus
  3. Jawaban permasalahan no 1 :

    Menurut Robert M Gagne, belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi. Robert M. Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan Amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa Condition Of Learning. Teori informasi psikologi muncul dari temuan dan modifikasi dari teori matematika, yang disusun oleh para peneliti untuk menilai dan meninngkatkan penggiriman pesan. Pembelajaran di kelas merupakan teori proses informasi yang berkaitan secara langsung dengan proses kognitif. Teori informasi memberikan perspektif baru pada pengolahan pembelajaran yang akan menghasilkan belajar yang efektif. Dalam teori pengolahan informasi terdapat persepsi, pengkodean, dan penyimpanan di dalam memori jangka panjang. Teori ini mengajarkan kepada siswa siasat untuk memecahkan masalah.


    Menurut Gagne, dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara kondisi internal dengan kondisi eksternal individu. Kondisi internal adalah keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi di dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Kondisi eksternal ini oleh Gagne disebut sebagai Sembilan peristiwa pembelajaran.
    Sembilan peristiwa pembelajaran menurut Gagne adalah sebagai berikut.
    1. Memberikan perhatian. Contoh sederhana tunjukan es krim, ceritakan kelezatan yang diperoleh dari memakannya.
    2. Memberi tahu siswa tentang tujuan pembelajara, biarkan siswa mengetahui apa yang akan dipelajarinya. Contohnya: Hari ini kita akan belajar membuat es krim.
    3. Dibangun atas pengetahuan yang telah lalu. Contohnya: Apakah ada yang pernah membuat es krim? Di mana, kapan, dan bahan apa saja yang diperlukan?
    4. Menyajikan pembelajaran sebagai rangsangan. Contoh: Tunjukkan kepada siswa bagaimana membuat es krim.
    5. Memberikan panduan belajar, bantulah siswa agar dapat mengikuti pembelajaran dengan baik pada saat pembelajaran berlangsung.
    6. Menampilkan kinerja, mintalah para siswa mengerjakan apa-apa yang baru dipelajarinya. Contoh, berikan kepada siswa bahan-bahan untuk membuat es krim dan mintalah agar siswa membuat es krim sendiri.
    7. Memberikan umpan balik, beritahu siswa kinerjanya masing-masing. Contoh, guru berkeliling kelas melihat bagaimana setiap siswa membuat es krim sendiri.
    8. Menilai kinerja, nilailah siswa tentang pengetahuannya mengenai topik pembelajaran. Contoh: amati es krim hasil karya siswa, jika mereka benar cara membuatnya diperbolehkan memakannya
    9. Meningkatkan retensi/ingatan dan transfer pengetahuan. Buatlah siswa dalam mengingat-ingat dan menerapkan keterampilan baru itu. Contoh, siswa ditugasi membuat es krim pada saat karya wisata sekolah.

    Sembilan peristiwa pembelajaran oleh Gagne tersebut secara tidak langsung telah menggambarkan langkah-langkah pemebelajaran menurut Gagne.
    Konsep hirarki pengetahuannya Gagne mengarah pada asumsi bahwa menjadi penting menghadirkan semua fakta tingkatan paling rendah yang perlu sebelum terus mengajarkan pada tingkatan yang paling tinggi. yang berkenaan dengan hal ini adalah konsep bahwa orang bisa menalar dengan konsep tingkatan yang lebih tinggi jika mereka telah mempelajari semua prasyarat informasi pada tingkat yang lebih rendah.

    Dari penjelasan diatas begitulah sekiranya pengaruh teori gagne pada pemrosesan informasi

    BalasHapus
  4. Baikalh saya akan mencoba menjawab pertanyaan ketiga menurut saya bisa hal tersebut dapat terjadi jika ingatan atau informasi pada sensory receptor terus mengalami pengulangan pengingatan atau dengan kata lain terus diulang ulang maka akan menjadi ingatan jangka lama

    BalasHapus

Posting Komentar