Pengertian e-learning berbeda dengan pembelajaran secara
online (online learning) dan pembelajaran jarak jauh (distance learning).
Online learning merupakan bagian dari e-learning, hal ini seperti yang
dinyatakan oleh Australian National Training Authority bahwa e-learning
merupakan suatu konsep yang lebih luas dibandingkan online learning, yaitu
meliputi suatu rangkaian aplikasi dan proses-proses yang menggunakan semua
media elektronik untuk membuat pelatihan dan pendidikan vokasional menjadi
lebih fleksibel. Online learning merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan
internet, intranet dan ekstranet, atau pembelajaran yang menggunakan jaringan
komputer yang terhubung secara langsung dan luas cakupannya (global). Sedangkan
distance learning, cakupannya lebih luas dibandingkan e-learning, yaitu tidak
hanya melalui media elektronik tetapi bisa juga menggunakan media
non-elektronik. Distance learning lebih menekankan pada ketidakhadiran pendidik
setiap waktu. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan secara umum e-learning
dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan
teknologi informasi dan komunikasi. E-learning adalah kegiatan belajar yang
menggunakan internet yang dapat dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka yang
ada di lembaga pendidikan.
Penerapan e-learning banyak variasinya, karena perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi yang cepat. Surjono (2007), menekankan
penerapan e-learning pada pembelajaran secara online dan dibagi menjadi dua
yaitu sederhana dan terpadu. Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa
kumpulan bahan pembelajaran yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah
dengan forum komunikasi melalui e-mail dan atau mailing list (milist).
Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi
dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi,
komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana pendidikan lain, sehingga menjadi
portal e-learning. Pembagian tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari
berbagai sistem pembelajaran berbasis web yang ada di internet. Nedelko (2008),
menyatakan ada tiga jenis format penerapan e-learning, yaitu:
a) Web Supported e-learning, yaitu
pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung dengan penggunaan
website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, tugas,
dan tes singkat
b) Blended or mixed mode e-learning,
yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan sebagian
lagi dilakukan secara online
c) Fully online e-learning format,
yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online termasuk tatap muka
antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara online yaitu dengan
menggunakan teleconference.
Penerapan e-learning lebih banyak dimaknai sebagai
pembelajaran menggunakan teknologi jaringan (net) atau secara online. Hal ini
berkaitan dengan perkembangan TIK yang mengarah pada teknologi online. TIK saat
ini, lebih difokuskan untuk pengembangan networking (jaringan) yang
memungkinkan untuk mengirim, memperbaharui, dan berbagi informasi secara cepat.
Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada beberapa faktor antara
lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik dari peserta didik.
Teknologi merupakan faktor pertama yang mempunyai peran penting di dalam
penerapan e-learning, karena jika teknologi tidak mendukung maka sangat sulit
untuk menerapkan e-learning, minimal sekolah mempunyai komputer. Materi
pembelajaran juga harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara
jelas atau diberikan link ataupun petunjuk sumber pembelajaran yang lain.
Karaktersitik peserta didik juga sangat dibutuhkan karena nilai utama di dalam
e-learning adalah kemandirian.
Dengan demikian, secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa
pembelajaran elektronik (e-learning) merupakan kegiatan pembelajaran yang
memanfaatkan jaringan (Internet, LAN, WAN) sebagai metode penyampaian,
interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar
lainnya (Brown, 2000; Feasey, 2001).
Manfaat pembelajaran elektronik menurut Bates (1995) dan
Wulf (1996) terdiri atas 4 hal,yaitu:
1) Meningkatkan kadar interaksi
pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance
interactivity).
2) Memungkinkan terjadinya interaksi
pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
3) Menjangkau peserta didik dalam
cakupan yang luas (potential to reach a global audience).
4) Mempermudah penyempurnaan dan
penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable
capabilities).
Dengan demikian diharapkan penerapan e-learning di perguruan
tinggi dapat memberikan manfaat antara lain :
·
Adanya
peningkatan interaksi mahasiswa dengan sesamanya dan dengan dosen
·
Tersedianya
sumber-sumber pembelajaran yang tidak terbatas
·
E-learning
yang dikembangkan secara benar akan efektif dalam meningkatkan kualitas lulusan
dan kualitas perguruan tinggi
·
Terbentuknya
komunitas pembelajar yang saling berinteraksi, saling memberi dan menerima
serta tidak terbatas dalam satu lokasi
·
Meningkatkan
kualitas dosen karena dimungkinkan menggali informasi secara lebih luas dan
bahkan tidak terbatas
Konsep keberhasilan program e-learning selain ditunjang oleh
perangkat teknologi informasi, juga oleh perencanaan, administrasi, manajemen
dan ekonomi yang memadai. Perlu juga diperhatikan peranan dari para
fasilitator, dosen, staf, cara implementasi, cara mengadopsi teknologi baru,
fasilitas, biaya, dan jadwal kegitan (Natakusumah, 2002). Secara konsep, dosen
e-learning harus mempunyai kemampuan pemahaman pada materi yang disampaikannya,
memahami strategi e-learning yang efektif, bertanggung jawab pada materi
pelajaran, persiapan pelajaran, pembuatan modul pelajaran, penyeleksian bahan
penunjang, penyampaian materi pelajaran yang efektif, penentuan interaksi
mahasiswa, penyeleksian dan pengevaluasian tugas secara elektronik. Studio
pengajar perlu dikelola lebih baik dari pada ruangan kelas biasa. Dosen harus
dapat menggunakan peralatan, antara lain menggunakan audio, video materials,
dan jaringan komputer selama pembelajaran berlangsung. Menurut Koswara (2006)
kemampuan baru yang diperlukan dosen untuk e-learning, antara lain perlu:
·
Mengerti
tentang e-learning,
·
Mengidentifikasi
karakteristik mahasiswa,
·
Mendesain
dan mengembangkan materi kuliah yang interaktif sesuai dengan perkembangan
teknologi baru,
·
Mengadaptasi strategi mengajar untuk
menyampaikan materi secara elektronik,
·
Mengorganisir
materi dalam format yang mudah untuk dipelajari,
·
Melakukan
training dan praktek secara elektronik,
·
Terlibat
dalam perencanaan, pengembangan, dan pengambilan keputusan,
·
Mengevaluasi
keberhasilan pembelajaran, attitude dan persepsi para mahasiswanya.
Sementara itu untuk menghindari kegagalan e-learning,
program-program yang perlu dikembangkan berkaitan dengan kebutuhan pengguna
khususnya mahasiswa antara lain :
Ø Berkaitan dengan informasi tentang
unit-unit terkait dengan proses pembelajaran : tujuan dan sasaran, silabus,
metode pengajaran, jadwal kuliah, tugas, jadwal dosen, daftar referensi atau
bahan bacaan dan kontak pengajar
Ø Kemudahan akses ke sumber referensi
: diktat dan catatan kuliah, bahan presentasi, contoh uian yang lalu, FAQ
(frequently ask question), sumber-sumber referensi untuk pengerjaan tugas,
situs-situs bermanfaat dan artikel-artikel dalam jurnal online
Ø Komunikasi dalam kelas : forum
diskusi online, mailing list diskusi, papan pengumuman yang menyediakan
informasi (perubahan jadwal kuliah, informasi tugas dan batas waktu pengumpulannya
Permasalahan
1. apa keuntungan dari e-learning
dalam pembelajaran khususnya kimia menurut anda ?
2. bagaimana kesulitan sendiri dalam
melakukan pembelajran berbasis e-learning menurut anda ?
3. apa saja bentuk e-learning yang
bisa dilakukan dalam ruang lingkup sekolah / kampus menurut anda ?
Saya akan menciba menjawab permasalahan nomor 2 yaitu bagaimana kesulitan sendiri dalam melakukan pembelajran berbasis e-learning menurut anda ?
BalasHapusKendala dari peserta didik yang belum dapat mengoperasikan komputer begitu juga halnya pendidik. Kita tidak bisa pungkiri pada daerah daerah tertentu E learning tidak dapat diterpkan karena tidak semua daerah memiliki pembelajaran tentang E learning. Penggunaan E learning tidak dapat terapkan karena memang peserta didik yang belum mengetahui dan menguasai bagaimana mengoperasikan E learning tersebut. Sebagian pendidik juga ada yang tidak dapat menggunakan E learning karena memang mereka tidak mendapatkan pembelajaran tersebut saat menjalani studi.
saya akan mencoba menjawab permasalahan pertama
BalasHapuskeuntungan dari e-learning dalam pembelajaran khususnya kimia:
a. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).
Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Mengapa?
Karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas.
b. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja. Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada instruktur begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/instruktur.
Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional. Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka Inggris telah memanfaatkan internet sebagai metode/media penyajian materi. Sedangkan di Universitas Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet untuk kegiatan pembelajaran telah dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk kegiatan tutorial saja atau yang disebut sebagai “tutorial elektronik”.
c. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).
Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.
d. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).
Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian instruktur selaku penanggung-jawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.
Saya akan menjawab permasalahan nomor 3
BalasHapusWilliam Horton, pakar e-learning, mengelompokkan e-learning menjadi 5 kategori, yaitu : learner-led e-learning, facilitated e-learning, instructor-led e-learning, embedded e-learning, dan telementoring dan e-coaching.
Learner-led e-Learning
Yaitu, e-learning yang dirancang untuk memungkinkan pelajar belajar secara mandiri. Dalam learner-led e-learning, semua materi (seperti multimedia presentation, html, dan media interaktif lain) dikemas dan dideliver via jaringan internet/web.
Instructor-led e-Learning
yaitu penggunaan teknologi internet/web untuk menyampaikan pembelajaran seperti pada kelas konvensional. Konsekuensinya, memerlukan teknologi pembelajaran sinkronous (real time) seperti konferensi video, audio, chatting, bulletin board dan sejenisnya.
Facilitated e-Learning
Kategori ini, merupakan kombinasi dari learner-lead dan instructor-led e-learning. Jadi, bahan belajar mandiri dalam beragam bentuk disampaikan via website (seperti audio, animasi, video, teks, dalam berbagai format tertentu) dan komunikasi interaktif dan kolaboratif juga dilakukan via website (seperti forum diskusi, konferensi pada waktu-waktu tertentu, chatting, dll).
Embedded e-Learning
Kategori e-learning ini dirancang untuk dapat memberikan bantuan segera, ketika seseorang ingin menguasai keterampilan, pengetahuan atau lainnya sesesegera mungkin saat itu juga dengan bantuan aplikasi program yang ditanam diwebsite.
Telementoring dan e-Coaching
Kategori ini adalah pemanfaatan teknologi internet dan web untuk memberikan bimbingan dan pelatihan jarak jauh. Dalam konteks ini, tool seperti telekonferensi (video, audio, komputer), chatting, instant messaging, atau telepon dipergunakan untuk memandu dan membimbing perkembangan peserta belajar (pemelajar) dalam menguasai pengetahuan, keterampilan atau sikap yang harus dikuasainya.
Menurut saya kelima bentuk E-learning diatas baik untuk diterapkan di sekolah maupun kampus sesuai kebutuhan pembelajar.